Jumat, Oktober 25, 2019

Desa Menari
Pic by Farida Asadi
Sering melakukan kegiatan di area perkotaan membuat saya rindu untuk melakukan kegiatan di area pedesaan daerah pegunungan. Saya pun berkeinginan untuk berkunjung ke desa yang ada di daerah pegunungan area Kabupaten Semarang.

Harapan itu terwujud saat saya akhirnya bisa berkunjung ke Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getas, Kabupaten Semarang pada hari Sabtu tanggal 12 Oktober 2019 bersama rekan-rekan blogger Semarang.

Berkenalan dengan Dusun Tanon

Dusun Tanon merupakan salah satu dusun yang ada di Desa Ngrawan, Kecamatan Getas, Kabupaten Semarang. Di Dusun Tanon, para warganya sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Dulunya, Dusun Tanon ini merupakan dusun yang tertinggal karena lokasinya berada di lereng Gunung Telomoyo yang lumayan jauh dari Kota Semarang.

Lalu apa tujuan saya berkunjung ke Dusun Tanon? Tujuannya adalah saya rindu desa di daerah pegunungan dan saya juga ingin mendapatkan inspirasi, motivasi dan juga hiburan saat saya berkunjung ke Dusun Tanon.

Satu Hari di Desa Menari Demi Satu Hati untuk Negeri

Matahari yang begitu terik tidak menyurutkan semangat saya untuk berkeliling di Dusun Tanon. Walapun cuaca panas, namun di Dusun Tanon tidak begitu panas karena berada di area lereng Gunung Telomoyo. Setelah saya sampai di Dusun Tanon, saya disambut dengan para warga Dusun Tanon yang ramah dan kami pun berjabat tangan. 

Hal tersebut membuat saya merasa bahagia karena disambut dengan baik di Dusun Tanon. Setelah itu kami pun berkesempatan untuk menyaksikan Festival Lereng Telomoyo 2019.

Lalu apa itu Festival Lereng Telomoyo? Festival Lereng Telomoyo 2019 adalah event yang diselenggarakan di Dusun Tanon sebagai bukti Dusun Tanon yang memiliki beragam wisata budaya.

Festival Lereng Telomoyo 2019 diselenggarakan selama dua hari mulai dari tanggal 12 Oktober 2019 – 13 Oktober 2019. Festival Lereng Telomoyo 2019 mengusung tema "Sumunaring Telomoyo, Semangat dalam Mewujudkan Keseimbangan Hidup".

Dalam acara Festival Lereng Telomoyo 2019 ini saya menyaksikan langsung Tari Geculan Bocah. Tari Geculan Bocah merupakan tarian anak-anak dengan gerakan dan irama yang gembira.
Desa Menari
Menyaksikan Tari Geculan Bocah di Dusun Tanon. Pic by Farida Asadi.
Tari Geculan Bocah juga tarian dengan penari anak-anak yang dirias agar terlihat lucu. Tari Geculan Bocah bisa membuat saya terhibur karena para penarinya melakukan gerakan tarian dengan lincah dan juga memiliki unsur guyonan anak-anak.

Setelah menyaksikan Tari Geculan Bocah, maka selanjutnya adalah menyaksikan para ibu-ibu yang memukul lesung. Dan saya juga melihat secara langsung para remaja Dusun Tanon bermain permainan tradisional sepertti Egrang, Suda Manda, dan Cublak Cublak Suweng.
Desa Menari
Memukul Lesung, Bermain Egrang, Suda Manda, dan Cublak Cublak Suweng di Dusun Tanon. Pic by Farida Asadi.
Berbagai macam permainan tradisional tersebut ternyata masih dilestarikan di Dusun Tanon. Dan para remaja Dusun Tanon merasa bahagia karena turut serta melestarikan permainan tradisionl.

Ketika hari menjelang siang dan waktu makan siang tiba, para warga Dusun Tanon menyediakan makan siang untuk para tamu undangan yang hadir di acara Festival Lereng Telomoyo 2019. Menu makanan tersebut adalah nasi jagung dengan berbagai sayur dan lauk (urap, tempe goreng, mie, ayam goreng hingga keripik ikan asin).

Selanjutnya adalah acara yang saya tunggu yaitu sharing session dengan Kang Trisno yang sudah berjasa merubah Dusun Tanon menjadi Dusun yang lebih maju dan lebih unggul. Lalu siapa Kang Trisno?
Desa Menari
Foto Bersama Kang Trisno. Pic by Nyi Penengah Dewanti.
Kang Trisno adalah seorang lelaki yang lahir di Dusun Tanon pada tanggal 12 Oktober 1981. Kang Trisno adalah warga Dusun Tanon yang pertama kali menjadi lulusan sarjana pertama yang ada di Dusun Tanon. Kang Trisno merupakan lulusan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta jurusan Sosiologi.

Jika sarjana yang lain lebih memilih bekerja di kota untuk mendapatkan penghasilan dan gaji yang banyak, maka berbeda dengan Kang Trisno yang kembali ke kampung halamannya yaitu kembali ke Dusun Tanon. Kang Trisno kembali ke Dusun Tanon untuk mengubah Dusun Tanon menjadi lebih baik.

Modal awal Kang Trisno dalam membangun Dusun Tanon menjadi lebih baik yaitu hanya Rp.200.000. saja. Namun ada banyak orang yang meragukan Kang Trisno dalam mengubah Dusun Tanon.

Pemerintah pun tidak mendukung Kang Trisno dalam memajukan Dusun Tanon kala itu. Tantangan terberat lainnya adalah sumber daya manusia (SDM) Dusun Tanon yang memiliki tingkat pendidikan rendah sehingga Kang Trisno merasa kesulitan untuk memajukan Dusun Tanon. Namun Kang Trisno tetap semangat dalam memajukan Dusun Tanon.

Kemudian Kang Trisno memberi nama baru pada Dusun Tanon yaitu Desa Menari. Desa Menari adalah singkatan dari Menebar Harmoni, Merajut Inspirasi, dan Menuai Memori. Dengan harapan tersebut maka Dusun Tanon berubah menjadi desa wisata yang ada di Kabupaten Semarang.

Lalu apa yang menarik dari Desa Menari? Yang menarik adalah ketika Kang Trisno membuat Dusun Tanon menjadi desa wisata dengan menonjolkan kearifan lokal para penduduk Dusun Tanon.

Kang Trisno mengatakan jika wisata itu bukan hanya sekedar objek saja karena Dusun Tanon tidak banyak memiliki objek wisata yang menarik. Maka dari itu, Kang Trisno ingin menonjolkan Dusun Tanon dengan kearifan lokal para penduduk dan juga kebudayaan lokal berupa tari Geculan Bocah dan Topeng Ayu.

Kang Trisno juga mengajak para anak-anak dan remaja Dusun Tanon untuk belajar menari sehingga saat ada wisatawan yang datang di Dusun Tanon maka bisa menyaksikan tari Geculan Bocah dan tari Topeng Ayu yang merupakan tarian khas Dusun Tanon.

Karena kegigihan dan kerja keras Kang Trisno, maka Kang Trisno mendapatkan penghargaan dari Astra sebagai penerima SATU (Semangat Astra Terpadu) Indonesia Award 2015 kategori lingkungan. Penghargaan tersebut tidak membuat Kang Trisno merasa berpuas diri. Tapi Kang Trisno tetap semangat dalam memajukan Dusun Tanon.

Lalu apakah kalian sudah tahu apa itu SATU (Semangat Astra Terpadu) Indonesia Award? SATU (Semangat Astra Terpadu) Indonesia Award adalah wujud apresiasi Astra untuk anak muda baik individu maupun kelompok yang memiliki program kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.

Kabar baik datang lagi di Dusun Tanon karena pada tahun 2016, Dusun Tanon dinobatkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) oleh PT Astra International Tbk. Lalu apakah kalian sudah tahu apa itu Kampung Berseri Astra (KBA)?
Desa Menari
Kampung Berseri Astra (KBA) Desa Menari Dusun Tanon. Pic by Farida Asadi.
Kampung Berseri Astra (KBA) adalah program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimpelementasikan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan yang mengintegrasikan 4 pilar program yaitu pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Tujuan dengan dibangunnya Kampung Berseri Astra (KBA) yaitu mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra (KBA).

Kolaborasi yang Apik Antara Kang Trisno, Desa Menari dan PT Astra International Tbk

Kang Trisno yang sudah membawa banyak perubahan di Dusun Tanon membuat Dusun Tanon lebih maju dengan dinobatkannya Dusun Tanon sebagai Kampung Berseri Astra maka Dusun Tanon sudah menjadi lebih baik di bidang pembangunan, kesehatan, wirausaha, dan juga pendidikan.

Di bidang pembangunan, Dusun Tanon sudah memiliki 26 homestay untuk para wisatawan yang ingin menginap di Dusun Tanon. Di bidang kesehatan yaitu petugas kesehatan jemput bola ke rumah warga Dusun Tanon untuk cek kesehatan.

Di bidang pendidikan yaitu 36 beasiswa dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi bagi anak Dusun Tanon. Sedangkan di bidang wirausaha yaitu adanya pasar rakyat yang menjual aneka hasil pertanian dan perkebunan Dusun Tanon.

Yang tak terduga adalah saat sharing session dengan Kang Trisno, Kang Trisno mendapatkan kejutan berupa kue ulang tahun di hari ulang tahun Kang Trisno tanggal 12 Oktober 2019. Selamat bertambah umur Kang Trisno. Semoga panjang umur dan tetap semangat untuk memajukan Dusun Tanon.

Setelah selesai mendapatkan banyak cerita seputar perjuangan Kang Trisno dalam memajukan Dusun Tanon yang akhirnya membuat Dusun Tanon semakin maju menjadi desa wisata. Maka selanjutnya yaitu saya menonton seni pantomim di area pasar rakyat Dusun Tanon. Saya merasa terhibur dengan adanya seni pantomim tersebut.
Desa Menari
Menyaksikan Seni Pantomim di Area Pasar Rakyat Dusun Tanon. Pic by Farida Asadi.
Pasar rakyat Dusun Tanon merupakan pasar yang menjual beraneka ragam hasil pertanian dan perkebunan yang ada di Dusun Tanon. Para wisatawan yang datang di pasar rakyat Dusun Tanon ini bisa membeli hasil pertanian dan perkebunan Dusun Tanon.

Yang tak kalah menarik yaitu selanjutnya saya bisa menyaksikan tari Topeng Ayu khas Tanon di lereng gunung Telomoyo. Saya kagum dengan para remaja penari Topeng Ayu karena sudah melestarikan budaya. Kostum dari penari Topeng Ayu juga menarik sekali dengan berbagai macam warna. Para penari Topeng Ayu juga berdandan dengan menarik.
Desa Menari
Foto Bersama dengan Penari Topeng Ayu. Pic by Nyi Penengah Dewanti.
Setelah selesai menyaksikan tari Topeng Ayu, maka selanjutnya adalah saya berkesempatan berkunjung ke peternakan sapi yang ada di Dusun Tanon. Selain itu, saya juga berkesempatan bercengkrama dengan salah satu warga Dusun Tanon yang merupakan petani cengkeh.

"Niki cengkeh nggeh, Mbah?". Saya bertanya kepada seorang nenek petani cengkeh Dusun Tanon.

"Nggeh, dik. Leres iku cengkeh" (Ya, dik. Benar itu cengkeh). Jawab si nenek.

"Cengkehe di damel nopo, Mbah?".  (Cengkehnya dibuat apa, Nek?). Saya bertanya lagi.

"Di sade ten peken dipun damel bumbu masak" (Dijual di pasar untuk dijadikan bumbu masak). Begitu kata nenek.
Desa Menari
Hasil Panen Cengkeh di Dusun Tanon. Pic by Farida Asadi.
Setelah berbincang dengan nenek petani cengkeh maka sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk mencium aroma khas cengkeh yang pedas dan hangat. Bahagia sekali rasanya dalam waktu sehari akhirnya saya bisa berkeliling Dusun Tanon.

Semoga Dusun Tanon semakin maju dan bisa menginspirasi desa-desa yang lainnya agar seluruh desa di Indonesia bisa menjadi desa yang makmur, maju, dan sejahtera dengan menonjolkan kearifan lokal dan potensi yang ada.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Anugerah Pewarta Astra #KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik #LFAAPA2019Semarang

1 komentar:

Saya langsung cek websitenya Desa Tamon, lho. Tapi masih belum ada paket wisatanya, ya. Kalau bawa keluarga ke sana takut bingung acaranya apa saja.

REPLY

Farida Asadi . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates