Sunday, September 23, 2018

Mengenalkan Teknologi Pada Anak Sejak Usia Dini, Yay or Nay?

Teknologi
Pic from Pixabay. Edited by Farida Asadi
Dulu saat saya masih kecil saya ingin sekali mempunyai seorang adik. Namun harapan saya tersebut tidak bisa terwujudkan karena pada kenyataanya saya tetap menjadi anak terakhir alias anak bungsu dari lima bersaudara.

Okelah, saya tidak mempunyai adik. It's no problem. Tidak mempunyai adik tidak apa-apa asal mempunyai keponakan. Dan pada tahun 2011 akhirnya saya mempunyai keponakan laki-laki anak dari kakak kandung saya. Karena masih tinggal dalam satu rumah maka keponakan saya sudah seperti adik saya sendiri.

Ketika saya mulai banyak memiliki waktu luang setelah ujian nasional sekolah menengah kejuruan pada tahun 2014. Maka waktu luang yang saya punya saya gunakan untuk bermain dan belajar bersama keponakan saya.

Di saat pengumuman kelulusan sekolah menengah kejuruan telah tiba dan sibuk ke sana sini mencari kerja namun ternyata tak dapat pula pekerjaan yang sesuai harapan saya. Maka akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pengasuh anak untuk keponakan saya.

Sejak saat itu, saya mulai banyak belajar tentang dunia anak. Salah satunya adalah mendampingi keponakan dari pagi hingga malam dan mendampingi keponakan saat masih di pendidikan anak usia dini. Karena keponakan saya terlalu banyak menghabiskan waktu bersama saya akhirnya keponakan lebih dekat dengan saya dibandingkan dengan ibunya.

Ada masa ketika keponakan meminta smartphone agar bisa bermain permainan yang ada pada smartphone. Terus terang saya tidak mempunyai uang kalau harus menuruti keinginan keponakan saya tersebut. Maka saya memutuskan untuk meminjamkan smartphone saya kepada keponakan saat hari libur tiba agar keponakan saya bisa bermain permainan di smartphone.

Saat saya sedang mengetik surat atau memindahkan file dari handphone ke personal komputer pasti keponakan akan ikut dan dia akan bertanya seputar hal apa yang dia lihat. Maka saya memutuskan untuk membuka Microsoft Word agar keponakan bisa belajar menulis. Dan akhirnya keponakan saya sangat antusias saat saya mengajarinya menulis dan mengetik melalui Microsoft Word.

Karena terlalu sering bermain smartphone dan menatap layar komputer di akhir pekan membuat penglihatan keponakan saya agak bermasalah dan tidak bisa menerima pelajaran di sekolah dengan baik. Keponakan saya mengatakan kalau dia tidak bisa melihat tulisan di papan tulis dengan jelas sehingga saat ada pertanyaan dia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Kecanggihan teknologi memang bagus untuk anak seusia keponakan saya yang saat ini duduk di bangku kelas dua sekolah dasar tapi kalau sesuai porsinya. Kadang saya khawatir saat saya sedang tidak di rumah dan jika komputer dan handphone saya masih menyala.

Yang saya khawatirkan adalah jika keponakan mengaktifkan data seluler pada smartphone dan dia mulai menonton video di Youtube. Yang saya takutkan adalah apabila dia menonton video yang tidak sesuai dengan usianya atau video yang mengandung unsur kekerasan.

Lalu bagaimana cara saya mengenalkan manfaat teknologi bagi anak seusia keponakan saya agar bisa sesuai dengan tujuan yang diinginkan? Saya mencoba mendampingi, mengawasi dan melindungi keponakan saya.

Keponakan saya lebih suka menggambar. Setiap kali saya menyuruhnya untuk belajar menulis, berhitung ataupun membaca dia sering ogah-ogahan dan malah muncul kebiasaan baru yaitu menggambar apa saja yang ada di dekatnya yang dia sukai.

Lalu munculah gagasan kalau mungkin keponakan saya harus diarahkan untuk belajar menggambar dengan memanfaatkan teknologi ya ada. Toh, keponakan saya juga sering belajar menggambar melalui Paint yang ada di komputer.

Tapi saya tidak jago dalam bidang menggambar dan mendesain. Lalu bagaimana solusinya? Untung saja saya lumayan aktif di sosial media sehingga saya bisa mendapatkan informasi seputar dunia menggambar dan desain grafis.

Asik kan kalau saya bisa mengarahkan bakat dan minat keponakan saya dalam dunia desain grafis. Tapi apakah ada tempat kursus desain grafis untuk anak-anak seusia keponakan saya? Kekhawatiran saya kandas sudah karena ternyata anak-anak seusia keponakan saya bisa mengikuti kursus design for kids di Dumet School. Lalu apakah ayah dan bunda sudah mengetahui apa itu Dumet School?

Dumet School adalah sebuah lembaga kursus yang bergerak di bidang pendidikan yang meliputi kursus membuat website, Kursus Pemrograman Komputer, web design, digital marketing, dan desain grafis.

Lalu apa alasan saya yang berkeinginan memilihkan Dumet School sebagai tempat kursus untuk keponakan saya? Alasannya adalah karena kursus design for kids di Dumet School ini ada banyak materi yang bisa dipelajari seperti mendesain logo unik, mengedit foto lucu, mengolah banyak gambar jadi desain yang menarik.

Kursus design for kids di Dumet School yaitu selama 2 minggu hingga satu bulan & hasilnya adalah anak dapat membuat hasil karya desain grafis sendiri dan melatih daya kreatifitas anak. Kursus design for kids di Dumet School diperuntukkan bagi anak usia 6 tahun hingga 12 tahun. Setelah mendaftar kursus design for kids di Dumet School maka akan mendapatkan banyak fasilitas dan kemudahan seperti materi desain grafis khusus untuk anak usia 6 tahun hingga 12 tahun.

Lalu berapakah biaya untuk bisa mengikuti kursus design for kids di Dumet School? Biaya kursus design for kids di Dumet School yaitu Rp.2.900.000. Pembayaran bisa dengan debit, credit, transfer bank dan cicilan.

Karena kursus design for kids di Dumet School merupakan program kursus baru dari Dumet School maka bisa mendapatkan diskon 10% untuk biaya kursus design for kids di Dumet School dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Nah, agar keponakan saya bisa kursus design for kids di Dumet School maka saya dan keponakan harus menabung terlebih dahulu. Untuk ayah dan bunda yang ingin mengarahkan anaknya pada bidang desain grafis maka bisa mendaftarkan putra dan putri untuk mengikuti design for kids di Dumet School.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Dumet School periode bulan September 2018

No comments:

Post a Comment