Selasa, Agustus 07, 2018

Satu Nama Dalam Satu Do'a

Edit Posted by with 2 comments
Pic by Pexel, edited by Farida Asadi
Untukmu,
Lelaki Bernama Santosa
Nama yang Kusebut Dalam Doa

Aku tak pernah menduga kita bisa berjumpa, berjabat tangan lalu saling mengenal lebih dalam. Lantai dua tempat magang kita menjadi saksi tentang curhatan dan gurauan kita saat masih di bangku SMK. Apakah saat itu aku langsung menyukaimu? Tentu saja tidak, aku menyukaimu bukan karena cinta pada pandangan pertama seperti dalam cerita novel yang kubaca. Aku menyukaimu karena kebersamaan kita, hari-hari yang kita lalui selama satu bulan di tempat magang. Lalu setelah itu kita berpisah dan tidak pernah berjumpa kembali. Apakah aku sedih dengan perpisahan itu? Ah, ya, tentu saja. Bagaimana aku tidak sedih jika aku sudah tidak bisa bertemu denganmu lagi setelah perpisahan itu.

Aku suka caramu mengejekku sambil bergurau. Ah, ya, aku memang tidak cantik seperti wanita pada umumnya. Mungkin itulah alasan kenapa kamu mengejekku. Aku suka saat kita bercerita tentang jurusan kita di sekolah. Aku anak RPL dan kamu anak TKJ. Membicarakan seputar pelajaran di sekolah dan cita-cita masa depan. Waktu itu kamu marah karena aku membahas umur. Padahal umurku dan umurmu hanya terpaut 2 tahun. Kenapa kamu marah? Apakah aku salah? Aku kan hanya menyebutkan fakta jika kamu memang lebih tua dua tahun dariku. Benar begitu kan?

Kendal - Semarang bukanlah jarak yang jauh untuk ditempuh. Lalu kenapa kita tidak bisa juga untuk berjumpa? Apakah kamu sengaja menghindar atau kamu tidak ingin berjumpa denganku lagi? Apakah kamu membenciku jika ternyata kamu tahu kalau aku menyukaimu? Suka atau cinta itu urusanku. Aku mencintaimu dan menyayangimu tanpa pernah kamu tahu karena aku hanya menyimpan rasa ini untukku saja. Aku tak mau pertemanan kita rusak begitu kamu tahu kalau aku menyukai dan mencintaimu.

Waktu berjalan begitu cepatnya hingga kemudian kamu sudah tidak di Semarang lagi. Kamu memilih berkarier menjadi tentara yang mengabdi untuk negeri kita tercinta ini, sama seperti ayah dan kakak laki-lakimu. Kamu ditugaskan ke luar pulau Jawa tepatnya di Kota Barabai. Lalu apakah aku harus ke Barabai agar aku bisa berjumpa denganmu? Tentu saja hal itu pernah terlintas di benakku. Ingin menyusulmu dan ingin bekerja di Barabai sana agar bisa dekat denganmu. Tapi aku sadar, kalau aku melakukan hal itu berarti aku bodoh. Buat apa aku menghamburkan uang hanya untuk menyusulmu jika kamu tetap berusaha menghindarku. Untungnya aku tidak sebodoh itu.

Tapi ternyata aku memang bodoh. Kenapa aku terus saja menyebut namamu dalam setiap doaku agar aku dan kamu menjadi satu dalam suatu ikatan yang sah yaitu ikatan pernikahan. Terdengar bodoh memang karena aku selalu berharap bahwa kamulah yang akan menjadi suamiku serta imamku suatu saat nanti. Aku berharap kamulah jodohku hingga ajal menjemputku.

Aku ingat saat kamu selalu ingat untuk sholat lima waktu tepat waktu. Aku juga ingat saat kita berbuka puasa bersama walaupun hanya dengan air mineral dan roti saja. Aku juga ingat saat kamu malu menyapaku karena banyak yang curiga kalau kita saling suka. Padahal itu hanya gosip belaka. Karena nyatanya aku tidak pernah mengatakan langsung kepadamu jika aku mencintai dan menyayangimu. Begitupun dengan kamu, kamu juga tidak pernah mengatakan kalau kamu mencintai dan menyayangiku.

Kata orang, lebih asik dicintai daripada mencintai. Tapi bagiku, lebih bahagia dicintai dan mencintai. Dicintai hanya membuat kita merasa bangga karena ada orang yang menyayangi kita dengan sepenuh hati. Mencintai hanya membuat kita seperti menabur harapan yang terkadang harapan itu palsu. Walaupun memang mencintai saja itu lebih menyakitkan apalagi jika cinta itu tidak terbalas.

Kata orang, jika rindu maka harus bertemu. Aku selalu merindukanmu namun kadang aku tidak ingin berjumpa dengamu. Aku takut jika kamu sudah memilih wanita lain yang akan kamu jadikan sebagai kekasihmu. Waktu itu aku cemburu. Ya, aku cemburu. Sebab waktu itu aku tahu kalau kamu sedang dekat dengan seorang wanita. Tapi aku sadar. Aku bukan siapa-siapa dan aku tidak berhak melarang kamu untuk dekat dengan wanita manapun.

Suatu saat nanti, jika seandainya kita bisa bersama. Apakah kita akan bahagia jika dari awal saja kedua orangtuamu sudah melarangmu untuk dekat denganku? Aku sadar diri. Aku ini siapa dan kamu itu siapa. Aku cuma rakyat jelata dan kamu orang kaya dan berada. Tapi, ingatlah. Cintaku padamu tidak terbatas waktu dan sampai kapanpun aku akan selalu menyayangimu sebagai seorang teman yang pernah membuatku tersenyum untuk waktu yang cukup lama. Hanya waktu yang akan menjawab semua tentang kita. Jika kita tidak bisa bersama. Mungkin Tuhan sudah memilihkan jodoh terbaik untukku. Jika kamu bukan jodohku maka semoga kamu juga akan menemukan jodohmu. Dan jika bisa aku memilih, maka aku akan memilih kamu sebagai jodohku. Jika kamu bahagia dengan jodoh pilihanmu. Maka aku juga harus bahagia dengan jodoh pilihanku. Happiness is for ours. For all.

With Love,


Farida Asadi

2 komentar: