Jumat, Agustus 10, 2018

5 Hal Unik dari Kadeso Desa Wisata Lerep

Pic by Farida Asadi
Desa Wisata Lerep adalah desa yang terletak di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Yang unik dari Desa Wisata Lerep adalah letaknya yang lumayan dekat dengan alun-alun Ungaran dan juga dekat dengan Gunung Ungaran. Udara sejuk menambah nilai plus bagi Desa Wisata Lerep. Apalagi dengan adanya berbagai macam destinasi wisata di Desa Wisata Lerep seperti Watu Gunung yang merupakan destinasi wisata yang populer dan sudah diketahui oleh banyak orang.


Sejak tahun 1973, Desa Wisata Lerep rutin mengadakan Kadeso. Lalu apa itu Kadeso? Kadeso adalah singkatan dari sedekah wong deso (sedekah orang desa). Tradisi Kadeso di Desa Wisata Lerep ini tetap diselenggarakan hingga sampai saat ini.

Tradisi Kadeso di Desa Wisata Lerep ini merupakan tradisi dimana hasil panen dari Desa Wisata Lerep dikumpulkan menjadi satu lalu dibentuk menjadi gunungan kemudian diarak keliling desa. Setelah itu gunungan yang berisi sayur, buah, dan nasi tumpeng akan dimakan secara bersamaan setelah selesai diarak keliling desa.

Kadeso Desa Wisata Lerep merupakan bentuk syukur dari warga Desa Wisata Lerep atas segala hasil panen yang melimpah, rejeki yang melimpah, dan atas segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Semua orang yang ada di Desa Wisata Lerep harus bahagia dan bersuka ria dalam Kadeso Desa Wisata Lerep. Semua warga tidak boleh sedih karena Kadeso Desa Wisata Lerep adalah pesta bagi semua warga Desa Wisata Lerep dan semua yang hadir di Kadeso Desa Wisata Lerep.

Kadeso Desa Wisata Lerep diselenggarakan satu tahun sekali setiap hari Rabu Kliwon setelah panen. Seiring berkembangnya zaman, karena saat ini di Desa Wisata Lerep para warganya tidak hanya berprofesi sebagai petani maka Kadeso Desa Wisata Lerep tidak lagi diselenggarakan setelah panen.

Sehingga Kadeso Desa Wisata Lerep diselenggarakan pada hari Rabu Kliwon Bulan Agustus sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun, jika di bulan Agustus tidak ada hari Rabu Kliwon, maka Kadeso Desa Wisata Lerep akan diselenggarakan pada hari Rabu Kliwon di bulan Juli.

Ada beberapa hal yang unik dari Kadeso Desa Wisata Lerep. Berikut ini adalah 5 hal unik dari Kadeso Desa Wisata Lerep :

1. Kadeso Desa Wisata Lerep Diselenggarakan Selama 4 Hari

Di tahun 2018 ini, Kadeso Desa Wisata Lerep diselenggarakan selama 4 hari berturut-turut tepatnya tanggal 5 Agustus 2018 - 8 Agustus 2018. Pada hari Minggu, 5 Agustus 2018, pukul 19.30 WIB, diselenggarakan pementasan drum black dan rebana.

Sedangkan hari Senin, tanggal 6 Agustus 2018, pada pukul 19.30 WIB diselenggarakan pementasan sendra tari, geguritan bocah dan calung angklung. Berikutnya adalah pada hari Selasa, tanggal 7 Agustus 2018 pukul 20.00 WIB diselenggarakan pementasan Seni Karawitan.

Dan puncak acara dari Kadeso Desa Wisata Lerep adalah pada hari Rabu, tanggal 8 Agustus 2018. Pada puncak acara Kadeso Desa Wisata Lerep inilah mulai digelar berbagai macam acara, dari acara Kirab Budaya, Gepuk Bumbung, Kenduren Wilujengan hingga Pagelaran Wayang Kulit mulai pukul 08.00 WIB sampai dini hari (menjelang pagi).

2. Tradisi Kirab Budaya Desa Wisata Lerep

Tradisi Kirab Budaya Desa Wisata Lerep adalah pawai berkeliling Desa Wisata Lerep yang diikuti oleh semua warga Desa Wisata Lerep mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua. Semuanya ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hal yang unik dari Tradisi Kirab Budaya Desa Wisata Lerep adalah semua warga membawa makanan dan hasil bumi Desa Wisata Lerep. Ada buah-buahan, sayuran, hingga nasi tumpeng dan lauk pauknya. Hal yang tak kalah menarik adalah para peserta Kirab Budaya Desa Wisata Lerep sangat kompak dalam keikutsertaan mengikuti Kirab Budaya ini dengan memakai kebaya, batik dan lurik.
Anak-Anak Memakai Kebaya dan Batik dalam Kirab Budaya Desa Wisata Lerep. Pic by Farida Asadi.
Para Ibu Membawa Nasi Tumpeng dan Lauk Pauk dalam Kirab Budaya Desa Wisata Lerep. Pic by Farida Asadi.
Yang patut diacungi jempol adalah semua warga Desa Wisata Lerep ikut serta dalam mengikuti Kirab Budaya ini. Lalu apa alasan warga Desa Wisata Lerep sangat kompak dalam segala hal tentang Desa Wisata Lerep terutama saat pawai Kirab Budaya ini? Bapak Sumaryadi selaku Kepala Desa Wisata Lerep mengatakan, alasan utama warga Desa Wisata Lerep kompak dalam segala hal adalah karena semua warga Desa Wisata Lerep mempunyai filosofi "Guyup Rukun Cancut Tali Wandha Sak Yet Sak Eko Kapti Mbangun Deso" yang artinya guyub dan rukun dalam mengencangkan tali persatuan untuk membangun desa. Satu ide, satu pikiran, dan satu tujuan untuk maju bersama membangun desa mulai dari perangkat desa dan seluruh warga Desa Wisata Lerep.
Yang tak kalah menarik adalah piala penghargaan bagi Desa Wisata Lerep yang patut dibanggakan. Seperti Juara 1 Desa Ternak Se-Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2013, Juara Umum Desa Wisata Se-Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017, dan Juara 2 ProduK UMKM di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Piala Penghargaan tersebut juga diarak keliling desa dalam memeriahkan Kirab Budaya Desa Wisata Lerep. Ada juga kesenian yang ditampilkan di acara Kirab Budaya Desa Wisata Lerep seperti Drum Band TK Lestari, Kesenian Drum Black, Rebana, hingga Kesenian Kuda Lumping.
Piala Penghargaan Prestasi Desa Wisata Lerep Ikut Dalam Kirab Budaya Desa Wisata Lerep. Pic by Farida Asadi.
Kesenian Kuda Lumping Dalam Acara Kirab Budaya Desa Wisata Lerep. Pic by Farida Asadi.
3. Tradisi Gepuk Bumbung

"Gepuk" artinya memecah, memukul. Sedangkan "Bumbung" artinya Bambu. Jadi dapat disimpulkan Gepuk Bumbung adalah memecah bambu. Tradisi Gepuk Bumbung adalah tradisi menabung bagi warga Desa Wisata Lerep. Setiap warga Desa Wisata Lerep yang mempunyai uang sisa dari belanja berupa uang receh maka uangnya dimasukkan ke dalam bambu.
Bumbung yang Siap Digepuk. Pic by Farida Asadi.
Setiap rumah di Desa Wisata Lerep mempunyai 1 Bumbung yang akan diisi uang untuk ditabung dan Bumbung tersebut diberi nama dan alamat lengkap sehingga saat acara Gepuk Bumbung tidak akan keliru dengan Bumbung milik warga yang lain.

Nah, sebagai warga negara yang sadar pajak, maka saat memasukkan uang ke dalam bambu maka dimasukkan juga SPPTPBB. Bambu yang berisi uang dan SPPTPBB tersebut akan dipecah saat acara Kadeso Desa Wisata Lerep. Bambu tadi akan dipecah dengan palu kemudian uangnya dihitung oleh panitia dan disaksikan oleh yang mempunyai Bumbung.

Kemudian uang tersebut digunakan untuk membayar pajak PBB. Apabila sudah membayar pajak dan uangnya masih sisa maka uang tersebut akan dibagikan kepada anak cucu untuk digunakan membeli jajanan saat pagelaran wayang kulit di Desa Wisata Lerep digelar. Hal ini bertujuan supaya para pelaku UMKM di Desa Wisata Lerep bisa memperoleh keuntungan karena sudah berjualan pada momen Kadeso Desa Wisata Lerep.
Prosesi Gepuk Bumbung. Pic by Farida Asadi
Sebenarnya tradisi Gepuk Bumbung sudah ada sejak dulu namun hilang. Maka sejak tahun 2017 acara Tradisi Gepuk Bumbung ini kembali diadakan. Namun, saat itu masih tahap percobaan dan sosialisasi saja sehingga belum begitu meriah. Jika tahun 2018 ini acara tradisi Gepuk Bumbung sudah meriah maka tahun depan akan lebih meriah lagi.
Prosesi Menghitung Uang Untuk Membayar Pajak PBB. Pic by Farida Asadi
4. Tradisi Kenduren Wilujengan

Kenduren Wilujengan berasal dari kata "Kenduri" dan "Wilujeng". "Kenduri" artinya pesta. Dan "Wilujeng" artinya selamat datang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Kenduren Wilujengan adalah pesta selamat datang untuk semua yang hadir di Kadeso Desa Wisata Lerep.
Mara Solehah (Blogger Semarang) Saat Mengikuti Tradisi Kenduren Wilujengan. Pic by Farida Asadi.
Setelah acara Kirab Budaya dan Gepuk Bumbung, acara selanjutnya adalah Kenduren Wilujengan. Semua warga Desa Wisata Lerep berkumpul untuk menyantap makanan dan hasil bumi yang tadi sudah diarak keliling desa saat pawai Kirab Budaya Desa Wisata Lerep. Sebelum menyantap makanan maka para warga harus berdoa terlebih dahulu.
Salah Satu Nasi Tumpeng yang Ada di Kenduren Wilujengan. Pic by Farida Asadi.
Gunungan Hasil Bumi di Kenduren Wilujengan. Pic by Farida Asadi.
Ada berbagai macam jenis makanan yang siap disantap seperti nasi tumpeng, ayam goreng, ikan asin, telur, jagung, dan berbagai macam buah-buahan. Semua warga Desa Wisata Lerep menyantap makanan di acara Kenduren Wilujengan ini. Dan bagi warga Desa Wisata Lerep yang tidak bisa hadir maka makanan akan diantar ke rumah. Semua orang yang hadir wajib menyantap segala macam hidangan yang ada di tradisi Kenduren Wilujengan ini termasuk para tamu yang diundang dalam acara Kenduren Wilujengan.
Semua Warga Desa Wisata Lerep Menikmati Hidangan Kenduren Wilujengan. Pic by Farida Asadi.
Semua Warga Bersuka Ria Menikmati Makanan di Kenduren Wilujengan. Pic by Farida Asadi.
5. Pagelaran Wayang Kulit

Setiap kali acara Kadeso Desa Wisata Lerep diadakan maka harus wajib ada Pagelaran Wayang Kulit. Kenapa demikian? Sebab, melalui Pagelaran Wayang Kulit inilah sebagai salah satu media dakwah dan media berkumpul. Pagelaran Wayang memiliki nasihat dan pitutur luhur dalam kegiatan sehari-hari. Sehingga Pagelaran Wayang Kulit pasti ada dalam Kadeso Desa Wisata Lerep.
Pagelaran Wayang Kulit di Desa Wisata Lerep. Pic by Farida Asadi.
Musik Gamelan Pengiring Pagelaran Wayang Kulit. Pic by Farida Asadi.
Yang menarik dari Pagelaran Wayang Kulit Desa Wisata Lerep di tahun 2018 ini adalah karena Pagelaran Wayang Kulit tidak hanya digelar pada malam hari saja. Namun digelar pada sore hari hingga malam hari menjelang pagi. Para warga pun sangat antusias sekali saat menonton Pagelaran Wayang Kulit ini. Para warga Desa Wisata Lerep sangat senang karena saat Pagelaran Wayang Kulit di malam hari turut hadir Bapak Ganjar Pranowo yang merupakan Gubernur Provinsi Jawa Tengah.
Para Warga Menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit. Pic by Farida Asadi.
Bapak Ganjar Pranowo Hadir Dalam Acara Pagelaran Wayang Kulit di Desa Wisata Lerep. Pic by Farida Asadi.
Menarik sekali kan? Itulah 5 hal unik dari Kadeso Desa Wisata Lerep. Jika kalian tertarik ingin datang ke Desa Wisata Lerep langsung saja ke Desa Wisata Lerep dan kalian juga bisa mengunjungi destinasi wisata Desa Wisata Lerep seperti Watu Gunung.

36 komentar:

  1. wah keren sekali acara kadeso ini, karena melestarikan kearifan lokal, dan rasanya ingin ikut acara tersebut karena bisa berkumpul dengan semua lapisan masyarakat tanpa ada batasan.

    BalasHapus
  2. paling suka lihat acar spt ini menunjukan orang desa masih punya semangat gotong royong

    BalasHapus
  3. sekarang acara acara dengan tema kearifan lokal seperti ini sudah mulai ditinggalkan semoga kadeso ini menjaga kebudayaan dan kearifan lokal warga setempat dan jadi daya tarik wisata

    BalasHapus
  4. Oalah Kadeso tu Sedekah Ndeso to Mbaaa....
    Sama ada juga di kampung nenekku Mbak, tapi namanya Sedekah Laut karena di pesisir :)

    BalasHapus
  5. Wah rame dan seru ya. Warga desanya kompak banget. Makin banyak wisatawan yang datang ke sana, ya Farida?

    BalasHapus
  6. Di Jogja juga sering ada kaya gini nih mba. Biasanya kami nonton dari jauh karena takut kedesak-desak, abis selalu rame dan bejubel :))

    BalasHapus
  7. Wah seru banget acaranya ini. Itu tradisi gepuk bumbung unik banget ya, menabung di bambu yang nantinya untuk bayar pajak PBB. Idenya keren.

    BalasHapus
  8. Acara tradisi seperti kadeso ini selalu menarik dan banyak nilai tradisi yang mesti dilestarikan ya pada acara seperti ini

    BalasHapus
  9. Wah seru ya mba acaranya, kalau di daerah itu acaranya banyak dan lama sampai berhari hari plus ramai pula jadi ingin lihat langsung

    BalasHapus
  10. budayanya masih kental ya mba, aku baru tahu kadeso tuh sedekah deso kirain nama daerahnya :D

    BalasHapus
  11. Asik ya kalau ada desa yang masih ada acara budaya begini. Membayangkan keakraban dengan sesama warganya

    BalasHapus
  12. Seru acaranya dan harus dilestarikan krn membuat warga saling bersilaturahmj ya. Di jakarta dulu aja kuda lumping tapi sekarang udah punah kayaknya

    BalasHapus
  13. Budaya-budaya Jawa kaya gini yang mestinya anak-anak muda harus tau.
    Karena selain banyak makanan khas juga banyak ilmu yang bisa dipetik, seperti menghargai orangtua, menghormati sesama dan bekerjasama.

    Keren...

    BalasHapus
  14. Unik ya mba.. smpi sekarang masih ada dan perlu dilestarikan ini jangan smp punah biar klak masih bisa dilihat ole ank cucu kita����

    BalasHapus
  15. Kalau melihat kayak gini makin sadar kalau Indonesia itu kayaaa banget akan budaya ya Mba. Di daerahku udah nggak ada tradisi begini, paling semacam festival aja di alun-alun kota :)

    BalasHapus
  16. Lerep ini kalau di Malang gitu mungkin sama kayak Batu kali ya. Udara sejuk dan banyak destinasi wisata. Wah, pengen ke Semarang lagi aku. Banyak yang belum di eksplore

    BalasHapus
  17. Waah, enak kehidupan di desa ya kl ada acara seperti ini keliatan kental hubungan satu sama lauh dan masyarakat menikmati bersama dengan gembira. Bunda blm pernah mentaksikan acara2 seperti ini.

    BalasHapus
  18. yang menarik Gepuk Bumbung ya. Itu warga pada taat pajak, seneng banget liatnya apalagi bisa nyaksiin prosesi mecahin bambunya trus ngitung bareng2. :))

    BalasHapus
  19. Luar biasa yah tradisinya ini, pesan moralnya sangat penting. Gen Milenial harus banyak belajar dari tradisi ini biar gak kegerus dgn perkembangan jaman

    BalasHapus
  20. Aku suka kalau ada kirab budaya gitu selain seru kita bisa mengetahui lebih banyak juga sama budaya dan tradisinya.

    BalasHapus
  21. Wah asyik nih ya melihat acara Kadeso Lerep ini. Mudah2an tahun depan bisa melihat langsung ah.. TRIms sdh berbagi cerita ini, Farid..

    BalasHapus
  22. Asik ya acara begini bisa merekatkan hubungan sesama warga desa dan tentunya dapat melestarikan budaya yang baik.

    BalasHapus
  23. Serunya mba lihat foto saat menghitung uang untuk baysr PBB, dari sini tih Gotong royongnya masih sangat kental

    BalasHapus
  24. Aku gagal datang karena barengan acara lain waktu itu. Padahal udah lama pengen menyaksikan kirab budaya kayak gini di Lerep

    BalasHapus
  25. Seru banget ya ternyata ritual di Desa Wisata Lerep ini. Asyik ikutan kenduren wilujengan ya, bisa ikut seseruan menikmati hidangan yang ada ;)

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah, budaya seperti Kadeso masih dilestarikan ya. Kalau bisa jangan sampai lekang oleh waktu dan zaman, walo sekarang sudah era digital, namun budaya baik seperti ini perlu dijaga :)

    BalasHapus
  27. Acaranya meriah sekali ya...saya juga senang sekali, kalau bisa menghadiri acara yang menampilkan banyak aneka budaya asli Bangsa Indonesia.

    BalasHapus
  28. Unik banget tradisi gepuk bumbung. Jadi ingat penuljual ayam gepuk. Hehehe. Keren ya membiasakan menabung untuk kemudian digunakan membayar pajak.

    BalasHapus
  29. Wah, baru tahu nih dengan acara ini. Keren ya. Sangat melestarikan kebudayaan daerah. Jadi pengen nyicip makanan2annya deh. :D

    BalasHapus
  30. Jadi nambah pengetahuan tentang budaya Indonesia lagi, pasti seru banget bisa ngikutin secara langsung.

    BalasHapus
  31. Tradisi kayak gini tu kearifan lokal sih menurutku dan emang kudu dilestarikan.
    Selain itu juga bisa menambah pendapatan masyarakat juga krn kyknya mendatangkan wisatawan ya mbak?

    BalasHapus
  32. Ungaran gak terlalu jauh dari Semarang ya mbak. Aku tau Ungaran awal kenal suamiku karena dia kerja di sana :-D
    Baru mau tanya itu kaya fotonya MAra, eh ternyata bener,
    Nasi tumbengnya warna warni jadi cantik.

    BalasHapus
  33. Makin ada alasan untuk saya datang ke Semarang. Makin banyak list spot yang ingin dikunjungi.

    BalasHapus
  34. Tradisi-tradisi kayak gini jangan sampai hilang ya mbak, biar dikenal terus sampai anak cucu

    BalasHapus
  35. Asyik ya, masih ada daerah yang melestarikan tradisi. Dari anak kecil sampai yang tua ikut semua di tradisi ini.

    BalasHapus
  36. aku pernah lewat lerep pas jaman masih tinggal di semarang dulu... tempatnya bagus ya, masih kental dengan budaya banget :)

    BalasHapus

Popular Post