Kamis, Juni 21, 2018

[Book Review] : The Architecture of Love - Ika Natassa

Edit Posted by with 4 comments
Pic from Goodreads
♡Identitas Buku♡

Judul Buku : The Architecture of Love

Penulis : Ika Natassa

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : Cetakan Kedua, Juni 2016

ISBN : 978-602-03-2926-0

Jumlah Halaman : 304 Halaman

Harga : Rp.84.000.

Rating : ♡♡♡♡

♡Sinopsis♡

New York mungkin berada di urutan teratas daftar kota yang paling banyak dijadikan setting cerita atau film. Di beberapa film Hollywood, mulai dari Nora Ephron's You've Got Mail hingga Martin Scorsese's Taxi Driver, New York bahkan bukan sekadar setting namun tampil sebagai "karakter" yang menghidupkan cerita.

Ke kota itulah Raia, seorang penulis, mengejar inspirasi setelah sekian lama tidak mampu menggoreskan satu kalimat pun.

Raia menjadikan setiap sudut New York "kantor"-nya. Berjalan kaki menyusuri Brooklyn sampai Queens, dia mencari sepenggal cerita di tiap jengkalnya, pada orang-orang yang berpapasan dengannya, dalam percakapan yang dia dengar, dalam tatapan yang sedetik-dua detik bertaut dengan kedua matanya. Namun bahkan setelah melakukan itu setiap hari, ditemani daun-daun menguning berguguran hingga butiran salju yang memutihkan kota ini, layar laptop Raia masih saja kosong tanpa cerita.

Sampai akhirnya dia bertemu seseorang yang mengajarinya melihat kota ini dengan cara berbeda. Orang yang juga menyimpan rahasia yang tak pernah dia duga.

♡Review Buku♡

Raia Risjad, penulis buku best seller yang mengalami writer's block karena kehilangan muse-nya dan sekarang ini menyandang status sebagai janda. Sudah beberapa tahun tidak juga menerbitkan buku baru akhirnya Raia memutuskan untuk ke New York sambil mencari inspirasi. Raia akhirnya tinggal di New York bersama Erin, Erin ini sahabat dekat Raia. Raia dan Erin tinggal di satu apartemen yang ada di New York.

Namun setelah beberapa hari Raia  tinggal di New York. Raia tetap saja tidak bisa menulis dan mengeluarkan hasil karyanya. Akhirnya Erin mengajak Raia untuk menghadiri pesta yang diadakan di apartemen teman Erin yang bernama Aga. Berawal dari pesta itulah akhirnya Raia bertemu dengan lelaki tampan tapi misterius yang bernama River Jusuf. Lelaki inilah yang akhirnya memberitahukan kepada Raia agar melihat kota New York dengan cara yang berbeda.

Pertama kali membaca novel karya Kak Ika Natassa, saya langsung jatuh cinta dengan karyanya. Karya Kak Ika Natassa yang pertama saya baca adalah Critical Eleven. Hingga kemudian saya mengikuti akun Twitter @ikanatassa agar saya tahu novel-novel karya Kak Ika Natassa yang lainnya. Dan akhirnya saya mengetahui karya Kak Ika Natassa yang membuat saya tertarik untuk membacanya yaitu The Architecture of Love. Untuk para pengikut kak Ika Natassa di Twitter pasti sudah tahu bagaimana awal mula lahirnya novel The Architecture of Love ini.

Yang membuat saya selalu jatuh cinta dengan novel karya Ika Natassa adalah latar tempatnya yang pastinya lengkap dengan segala keterangannya seperti segala tempat unik dan menarik di kota New York mulai dari gedung-gedung tinggi pencakar langit, toko buku, taman, museum, hingga kedai kopi di dalam novel The Architecture of Love ini. Tak hanya itu saja, makanan dan minuman enak di kota New York juga dibahas di sini beserta keterangannya juga. Lengkap banget kan?

Novel karya Kak Ika Natassa selalu membuat para pembaca tertarik untuk membaca karena memiliki latar tempat di kota-kota besar seperti Jakarta dan New York. Selain itu, karya Kak Ika juga selalu menarik dengan pilihan kata yang pas dan pastinya banyak sekali kalimat Bahasa Inggris di dalam novel The Architecture of Love ini, jadi dengan begitu saya pun bisa sekaligus belajar dan tahu kosakata baru Bahasa Inggris yang belum saya ketahui. Baca novel untuk mendapatkan hiburan dan melepas penat sekaligus belajar kosakata baru yang belum saya tahu. Asik banget kan???

Cover novel The Architecture of Love ini juga saya sukai karena berwarna cokelat dan seperti gambar desain para arsitek. Menurut saya judul novel dan isinya sama bagusnya dan saling berkaitan sehingga hal itulah yang membuat novel ini menarik. Di dalam novel ini juga disertai gambar ilustrasi desain bangunan-bangunan yang ada di kota New York yang dikunjungi Bapak Sungai dan Ibu Hari Raya.

Panggilan-panggilan yang menurut saya unik ketika membaca novel ini adalah Raia Risjad memanggil River dengan sebutan Bapak Sungai. Sedangkan River Jusuf memanggil Raia Risjad dengan sebutan Ibu Hari Raya. Ada juga panggilan kesayangan Raia Risjad kepada kedua orangtuanya yaitu Papaw dan Mamaw. Selain itu ada juga panggilan Raia untuk para editornya yaitu Mimi & Mikky.

Yang saya suka dari novel ini yaitu ada banyak sekali qoute-quote yang menarik dan erat sekali kaitannya dengan kehidupan sehari-hari seperti berikut ini,

1. Ada beberapa pertanyaan yang hanya kita sendiri yang tahu jawabannya, tapi justru kita tidak bisa menjawab - Hal 20

2. Kita selalu tahu kapan yang pertama, tapi kita tidak pernah tahu kapan yang terakhir untuk semua hal dalam hidup ini, sampai kita mengembuskan napas terakhir - Hal 97

3. Banyak masalah hidup, terlalu banyak masalah, yang tidak dapat diselesaikan secepat membuat mie instan, sama seperti kebahagiaan yang mustahil dikejar seringkas memasak mie seharga dua ribu Rupiah - Hal 143

4. Takdir memang punya cara yang aneh dalam mempermainkan hidup gue. Kata orang, di saat yang tidak kita duga-duga, terkadang muncul seseorang dalam hidup kita lewat pertemuan acak, mungkin di jalan, di acara, di restoran, stasiun, kereta dan entah bagaimana, orang ini lantas menjadi orang yang kita rasakan paling dekat, paling membuat kita nyaman, lebih dari orang-orang yang selama ini kita kenal lebih lama dan lebih dalam - Hal 147

5. Mungkin tidak semua keputusan dalam hidup yang rasanya benar meninggalkan rasa lega - Hal 173

6. Dalam masalah cinta, kita semua perempuan biasa. Tidak ada yang super, tidak ada yang kebal dari patah hati - Hal 226

7. Kejujuran memang terkadang tak gampang ditelan karena tidak seperti kebohongan, kebenaran tidak pernah bersalut gula - Hal 237

8. Orang-orang bilang, siapa pun yang kita ingat pertama kali ketika ingin berbagi berita bahagia, bisa jadi sesungguhnya adalah orang yang paling penting dalam hidup kita tanpa kita sadari - Hal 266

9. Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir - Hal 270

Raia Risjad di dalam novel The Architecture of Love membuat saya makin tahu tentang dunia penulis. Mulai dari inspirasi penulis, writer's block hingga hal-hal yang bisa membangkitkan mood penulis seperti jika si penulis jalan-jalan ke suatu tempat yang berkesan dan jika si penulis sedang jatuh hati. Jika tokoh Raia Risjad ini ada dalam dunia nyata, mungkin Raia adalah salah satu penulis favorit saya karena Raia ini penulis buku best seller yang bukunya di angkat ke film layar lebar. Raia Risjad (Ibu Hari Raya) mengatakan kalau dia menulis karena dia cinta menulis dan dia menulis kisah karena ada yang ingin dia ceritakan, bukan karena ingin mencari popularitas atau award atau mengejar pujian. Saya setuju sekali dengan pendapat Ibu Hari Raya ini, kalau kalian setuju atau tidak sobat?

Salah satu kalimat favorit saya di dalam novel ini yang berisi tentang buku yang diangkat ke film layar lebar yaitu bagi seorang penulis, buku yang dia hasilkan ibarat anak, yang akhirnya lahir setelah proses "mengandung" -menulis-yang penuh perjuangan, tidak mudah dan tidak sebentar. Dan menyerahkan karya kepada produser untuk diadaptasi menjadi film ibarat menyerahkan anak kepada orang lain untuk "diutak-atik". Butuh kepercayaan dan mungkin sedikit kepasrahan, walaupun tetap digelayuti ekspektasi (Halaman 12).

Karena membaca novel The Architecture of Love ini jugalah akhirnya saya tahu rahasia kecil bagi seorang penulis. Mau tahu rahasia kecil penulis? Menggunakan berbagai alasan terkait menulis untuk menghindar dari acara apa pun, biasanya yang mengajak tidak akan bertanya-tanya lebih jauh karena tidak paham juga bagaimana sebenarnya proses kreatif seorang penulis.

Novel ini juga sedikit banyak mengajarkan saya tentang dunia penulis seperti hal-hal kecil yang bisa menjadi inspirasi bagi seorang penulis. Menulis itu banyak berurusan dengan perasaan dan suasana hati, jadi tentu kejadian-kejadian kecil dan besar dalam hidup penulisnya bisa memengaruhi inspirasi untuk datang atau pergi atau menghilang sementara. Kejadian kecil misalnya saya habis makan bakso di pinggir jalan dan ternyata enak banget, perut kenyang, dan lidah puas itu bisa banget bikin inspirasi datang. Begitulah apa yang telah dikatakan oleh Raia Risjad.

Tak hanya tentang dunia penulis saja, saya pun sedikit banyak mengetahui tentang dunia arsitek. Kata orang, arsitek itu tukang gambar. Tapi, kalau menurut novel The Architecture of Love ini architecture is sort of a combination of love, mind, and reason. Merancang bangunan itu nggak sekadar urusan teknis, nggak sekadar bikin bangunan yang aman dan nyaman. Tapi juga mengakomodasi sentimental values pemiliknya (Halaman 94).

River Jusuf si arsitektur tampan tapi misterius dan pendiam. Memiliki masa lalu yang cukup kelam membuat River menutup dari dunia luar. Apalagi si Bapak Sungai ini tidak begitu suka keramaian dan perayaan pesta. Saat bertemu dengan Raia, Bapak Sungai ini tipe pria yang misterius namun tidak membuat Raia penasaran. Ada saat dimana River sibuk menggambar dan Raia sibuk mengetik tulisan di laptop tapi ternyata Raia tidak menemukan ide untuk menulis hingga akhirnya Raia menonton kartun kesukaannya yaitu Tom & Jerry. Lucu ya Ibu Hari Raya, sudah hampir memasuki usia kepala tiga tapi tetap saja masih menyukai kartun. Kalau kalian gimana sobat?

Beberapa part yang saya suka adalah saat River selalu menunggu Raia di bawah pohon yang masih di area apartemen Erin yang merupakan sahabat Raia, saat River salah tingkah dan menggaruk kepalanya saat bertemu dengan Raia. Tapi yang paling menjadi part favorit saya adalah ketika River sedang Shalat Tahajud ketika tengah malam dan setelah Shalat Tahajud, si River ngobrol dengan Raia dan kemudian Raia dengan senang hati membuatkan River semangkok mie instan.

Hal yang menurut saya erat sekali kaitannya dengan kegiatan kita sehari-hari adalah seperti rokok dan mie instan. Jika River memilih rokok sebagai racunnya dalam kehidupannya sehari-hari. Maka Raia memilih mie instan sebagai racunnya dalam kehidupan sehari-hari. Ah, ya memang begitu terkadang apa yang kita rasa enak ternyata tidak baik untuk kesehatan kita.

Ada juga part lain yang menurut saya unik seperti saat River lebih banyak tertawa dan banyak bicara kalau sedang bersama Raia. Saat River menceritakan masa lalunya kepada Raia tanpa Raia meminta untuk menceritakan masa lalu tersebut. Saat pertama kali River ingin menjadi arsitek dan saat River mengunjungi bioskop-bioskop di New York untuk membeli pop corn bukan untuk menonton. Kalau di Jakarta, si River ini sudah mencoba berbagai macam pop corn yang ada di Cinemaxx, XXI, blitz. River ini bukan pencinta film yang suka nonton tapi pecinta pop corn. Jadi, kalau setiap ke bioskop tidak untuk nonton tapi untuk beli pop corn. Kira-kira kalau di dunia nyata, ada tidak ya pria tampan yang memiliki tingkah unik seperti Bapak Sungai ini?

Kalau ada yang menanyakan siapa tokoh favorit saya di dalam novel ini, maka jawaban saya adalah Raia Risjad. Raia Risjad si penulis yang rela tidak bekerja dalam dunia finance seperti apa yang sudah dia pelajari saat masih kuliah. Raia Risjad yang lebih memilih menjadi penulis yang kata orang kalau menjadi penulis itu penghasilannya tidak seberapa. Raia Risjad yang kehilangan inspirasi menulis karena ditinggalkan muse-nya dan berstatus janda. Tapi, walaupun begitu setiap harinya Raia tetap berusaha move on dan tetap mencari inspirasi menulis sampai terbang jauh ke kota New York. Jadi, menurut saya si Raia Risjad ini perempuan kuat dan tegar yang tetap ingin terus maju dan melupakan masa lalu bukan perempuan rapuh yang setiap harinya menangis dan mengeluh.

Jika Raia Risjad adalah tokoh favorit saya, lantas adakah tokoh yang saya benci? Tentu saja tidak ada, cuma ya saya agak sedikit kurang suka dengan si misterius River Jusuf yang sepertinya rapuh dan sulit melupakan masa lalu. Masa iya sih, sebagai lelaki kok serapuh itu? Raia Risjad saja kuat dan tegar dalam setiap menghadapi kenyataan yang ada. Tapi kenapa River serapuh itu? Bukankah biasanya lelaki lebih kuat daripada wanita? Tapi Bapak Sungai ini juga menggemaskan bagi saya karena lesung pipitnya. Saya selalu suka dengan orang-orang yang berlesung pipit. Kalau kalian bagaimana sobat?

Novel The Architecture of Love ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu di awal dan di akhir cerita. Tapi di tengah-tengah menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Hal ini menurut saya unik dan tidak membingungkan untuk para pembaca termasuk saya. Namun yang kurang saya suka adalah menjelang akhir kok alurnya terlalu cepat padahal dari awal hingga di tengah-tengah cerita itu sudah pas dan bagus banget.

Nah, untuk para penggemar dan pembaca setia novel kak Ika Natassa harus wajib sekali untuk membaca novel The Architecture of Love ini karena di dalam novel ini ada part si Aldebaran Risjad yang baik dan tampan dan si Harris Risjad yang tengil itu. Jadi, biar makin nggak penasaran sama kisah si Raia Risjad dan si River Jusuf, yuk baca aja novel The Architecture of Love karya kak Ika Natassa sekarang juga !!!

4 komentar:

  1. Wah kyknya menarik sekali novel ini. Bikin makin kenal new york ya

    BalasHapus
  2. wah bagus nih bukunya...penasaran ma endingnya mb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo baca novelnya mbak biar nggak penasaran!!!

      Hapus