Berawal dari Diri Sendiri untuk Sensor Mandiri Agar Masa Depan Lebih Berarti

Pic by Pexels
Menonton film sudah menjadi kebiasaan bagi setiap kalangan. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Film tak hanya sebagai hiburan. Namun dengan menonton film kita bisa mendapatkan ilmu dan pelajaran. Ternyata hanya dengan menonton film kita bisa mendapatkan manfaat yang banyak. Selain itu, dengan menonton film kita bisa seperti berkeliling dunia dengan melihat beberapa latar tempat yang ada di film tersebut. Film Doraemon Stand By Me merupakan salah satu film favorit saya yang berlatar di Jepang. Film juga merupakan karya yang wajib diapresiasi agar para pembuat film bisa lebih giat lagi untuk memproduksi film yang keren dan berkualitas. Sebuah film dibuat bukan hanya sekedar untuk memperoleh keuntungan. Namun juga untuk memberikan pesan atau amanat yang baik untuk para penontonnya. Selain itu, film juga bisa menjadi salah satu inspirasi penulis untuk menulis novel. Misalnya film Ada Apa Dengan Cinta? yang kemudian menginspirasi kak Silvarani untuk menulis novel dari film Ada Apa Dengan Cinta?

Jika zaman dulu menonton film hanya bisa dilakukan di tengah lapangan luas dan biasanya disebut dengan menonton layar tancap. Berbeda dengan zaman sekarang yaitu menonton film di bioskop dengan nyaman. Seiring berkembangnya zaman, sekarang sudah banyak televisi di tiap-tiap rumah. Dulu waktu saya kecil hanya ada beberapa orang saja yang mempunyai televisi. Televisinya pun masih hitam putih atau belum berwarna. Namun sekarang setiap rumah sudah memiliki televisi bahkan lebih dari satu dan tentunya sudah berwarna dan memiliki kecanggihan yang handal dan bentuknya menarik. Kalau menonton film di bioskop maka akan dikenakan biaya tiket menonton. Sedangkan kalau menonton film di televisi maka kita tidak dipungut biaya atau gratis. Namun jika menggunakan televisi berlangganan maka diwajibkan membayar tagihan setiap bulan.

Membahas tentang film saya jadi teringat dengan Lembaga Sensor Film. Sebelum sebuah film ditayangkan biasanya akan diteliti dan diseleksi terlebih dahulu oleh Lembaga Sensor Film. Lembaga Sensor Film adalah lembaga yang mengurusi layak dan tidaknya film yang akan tayang. Walaupun begitu masih ada juga sekelompok orang yang menonton film tidak sesuai dengan usianya. Maka dari itu, kita juga harus selektif agar kita bisa menonton film sesuai dengan usia kita. Lalu apa yang bisa kita lakukan agar kita bisa menonton film yang sesuai usia dan tentunya juga ingin kita tonton?

Beberapa hari yang lalu saya membaca postingan salah satu blogger yang isinya tentang Sensor Mandiri. Apa sih itu sebenarnya Sensor Mandiri? Lalu siapa sajakah yang wajib melakukan Sensor Mandiri? Menurut saya, sensor mandiri adalah sensor yang dilakukan secara pribadi yang dimulai dari diri sendiri kemudian mengajak orang-orang di sekitar untuk melakukan sensor mandiri yang dilakukan secara pribadi dan dimulai dari diri sendiri. Para pembuat film juga wajib melakukan sensor mandiri agar film yang dibuat bisa berkualitas, bermanfaat, memperoleh keuntungan dan tentunya bisa ditonton penonton yang sesuai usianya.

Seringkali saat menonton film di televisi ada tulisan SU(Semua Umur), 13+, 17+, 21+.SU (Semua Umur) maksudnya adalah film tersebut bisa ditonton oleh semua kalangan mulai kalangan anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. 13+ maksudnya adalah film tersebut bisa ditonton oleh remaja yang berusia lebih dari 13 tahun. 17+ maksudnya adalah film tersebut bisa ditonton oleh remaja yang usianya lebih dari 17 tahun. 21+ maksudnya adalah film tersebut bisa ditonton oleh orang dewasa yang berusia lebih dari 21 tahun.

Berikut ini saya ingin berbagi tips sensor mandiri yang bisa kita mulai dari diri sendiri yaitu :

1. Menonton film sesuai usia

Menonton film sesuai usia memang harus dilakukan sejak dini. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan karena apabila kita tidak menonton film sesuai usia kita maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ketika ada anak kecil yang menonton film untuk orang dewasa. Beberapa adegan film untuk orang dewasa kadang mengandung sedikit hal-hal yang berbau kekerasan. Hal ini jika ditonton oleh anak kecil bisa mengakibatkan anak kecil meniru hal-hal yang berbau kekerasan tersebut yang tidak hanya merugikan diri sendiri namun juga bisa merugikan orang lain. Mengajak anak kecil untuk menonton film sesuai usianya bukanlah hal yang mudah. Lalu bagaimana cara memberitahu anak-anak agar menonton film yang sesuai usianya? Caranya adalah menasehati secara halus dan tentunya memberikan pengertian betapa pentingnya manfaat menonton film sesuai usianya. Jangan lupa juga untuk mendampingi dan mengawasi anak-anak saat menonton film yang sesuai usianya.

Anak-anak itu adalah peniru yang menurut saya hebat. Kenapa hebat? Karena apapun yang dilakukan orang tuanya atau orang-orang di sekitarnya pasti akan ditiru. Entah itu hal baik atau hal buruk. Maka berhati-hatilah saat berbicara atau bertindak. Maka dari itu, jika kita menanamkan sikap pada anak untuk menontom film sesuai usianya maka anak pun akan ikut menanamkan sikap menonton film sesuai usianya.

Para remaja juga rentan apabila menonton film tidak sesuai usianya. Apa yang akan terjadi apabila para remaja menonton film tidak sesuai dengan usianya? Para remaja rentan meniru adegan-adegan dalam tayangan film orang dewasa apabila para remaja menonton film yang tidak sesuai usianya. Remaja itu mempunyai semangat yang menggebu-gebu dan selalu ingin mencoba sesuatu hal yang baru. Lalu, jika para remaja mempunyai pergaulan yang salah maka bisa menjadi penyebab timbulnya keinginan untuk menonton film yang tidak sesuai usianya. Bagaimana cara menanamkan sikap menonton film sesuai usianya pada remaja? Remaja itu cenderung memberontak bila dinasehati. Maka dari itu awasi dan bimbing agar remaja bisa menonton film sesuai usianya.

2. Mematikan TV sejak pukul 18.00-19.00

Mematikan televisi pada pukul 18.00-19.00 bukan hanya bermanfaat untuk menghemat energi listrik namun juga bisa menjadi kebiasaan yang baik untuk ditanamkan kepada anak-anak. Pukul 18.00 biasanya anak-anak di kampung saya melaksanakan shalat Maghrib kemudian mengaji dan akan selesai sampai pukul 19.00. Pukul 19.00 akan melaksanakan shalat Isyak dan kemudian dilanjutkan dengan makan malam setelah itu anak-anak belajar. Maka dari itu, saat pukul 18.00-19.00 bisa digunakan untuk beribadah, belajar dan momen Quality Time bersama anak dan keluarga.

3. Tidak membiarkan anak-anak menggunakan gadget secara berlebihan

Di era yang semakin canggih ini banyak anak-anak yang sudah mempunyai gadget bahkan lebih dari satu. Maka dari itu, jangan membiarkan anak-anak menggunakan gadget setiap hari karena berbahaya bagi kesehatan. Gadget bukan hanya sebagai alat komunikasi saja. Namun gadget juga bisa digunakan untuk menonton film. Maka dari itu, tetap awasi anak-anak saat bermain menggunakan gadget. Dan ijinkan anak-anak menggunakan gadget saat ada tugas dari sekolah atau saat hari libur agar bisa dijadikan hiburan mengusir kebosanan saat liburan tiba.

Komentar

  1. Iya sayangnya banyak orangtua yang kurang paham tentang sensor mandiri ini ya. Sehingga banyak anak2 dikasih tontonan yang ga sesuai usianya. Sprti tontonan kekerasan, porno dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda, seharusnya orang tua sadar dan paham tentang sensor mandiri.

      Hapus

Posting Komentar

Popular Post

#BukaInspirasi Bersama Nyi Penengah Dewanti

Mengenalkan Teknologi Pada Anak Sejak Usia Dini, Yay Or Nay?

Cuma 9 Rupiah, Naik Bus Trans Semarang Bayar Pakai Go Pay